Friday, April 25, 2014

No Rain No Rainbow (Part 3)

<Sho>

Seminggu berlalu sejak acara di rumah Jun bersama Aiba, Ohno dan Nino.
Sejak itu tidak ada lagi rasa kesal, dan aku pun nampaknya sudah tidak begitu meributkan soal hasil audisi, peran di film ataupun ambisiku menuju Hollywood. Memang sih, masih tersisa rasa penyesalan, tapi mungkin memang aku belum beruntung dan aku harus berusaha lebih keras lagi, pikirku menghibur diri.

Tidak hanya itu, selama seminggu ini Aiba, Ohno dan Nino seperti berusaha agar bisa lebih dekat denganku. Mereka jadi lebih sering ngobrol, makan siang bareng, ataupun sekadar pulang sama-sama. Jun pun tidak ketinggalan. Selain Aiba yang memang sudah kukenal baik, aku pun sedikit demi sedikit mulai mengenal mereka lebih dekat.

Terutama Jun, orang yang dulunya kuanggap hanya seorang Tuan Muda yang manja, ternyata tidak seluruhnya benar. Diantara mereka berempat, ternyata Jun yang paling care. Dia selalu bisa memerhatikan hal sekecil apapun, selalu tahu ketika ada yang tidak beres diantara kami, dan selalu siaga memberikan obat atau apapun yang dibutuhkan ketika salah satu dari kami sakit atau memerlukan sesuatu.

Yah, walaupun terkadang sifat seenaknya layaknya Tuan Muda muncul. Atau keegoisan dan sedikit arogan pun tidak luput dari Jun. Well, tidak ada manusia yang sempurna, bukan.

"Yo! Ohayo." Jun menepuk pundakku, membuyarkan lamunanku pagi itu yang sedang membereskan beberapa buku dan surat kabar di dress room kami.
"Oh, Matsujun. Ohayo." balasku sambil tetap sibuk membereskan dan memasukkan beberapa buku ke dalam tasku.
"Sho-kun, pulang syuting Arashi ni Shiyagare nanti kamu ada acara?" tanya Jun sambil duduk bersila di sebelahku.
"Hmmm, tidak ada. Paling tidur di apartemen. Hari ini tidak ada schedule untuk News Zero" jawabku seraya menutup resleting tas dan ikut duduk bersila di hadapan Jun.
"Nonton yuk." tanpa basa-basi Jun mengajakku dan menatap lekat-lekat ke arahku.
"Eh? Nonton apa?" tanyaku.
"Hmmm, apa aja deh. Kalau Sho-kun nggak mau nggak apa-apa sih, kita bisa makan bareng atau cuma sekadar jalan-jalan pun oke, " Jun tersenyum ke arahku "Yang penting pergi sama Sho-kun" ia menambahkan.
Entah kenapa wajahku tiba-tiba memerah dan panas mendengar kata-kata Jun dan aku hanya bisa menanggukkan kepalaku perlahan.

.......

Sore itu kami menghabiskan waktu berdua, nonton, makan steak, jalan-jalan seputaran mall, mencari buku bacaan, dan menjelang malam kami nongkrong di atap mall sambil meneguk kopi dingin dan memandangi langit cerah malam itu.

"Sho-kun capek?" Jun memulai pembicaraan.
Aku hanya menggeleng sambil tetap melihat ke atas langit.
"Terima kasih sudah menemaniku ya." Jun tersenyum.
"Sama-sama. Kupikir awalnya kamu orang menyebalkan, tapi ternyata lumayan asik." balasku.
"Lumayan? Yaahh, masih level lumayan ya..." Jun pura-pura kecewa.

Kami pun tergelak tertawa bersama-sama.

"Seperti kencan ya." kata-kata Jun entah kenapa membuat jantungku berdegup kencang. "Pantas saja, Aiba selalu bersemangat kalau cerita tentang Sho-kun, ternyata kamu memang menyenangkan ya." Jun memujiku dengan tulus.
"Eh, nggak juga..." jawabku tersipu.

TERSIPU?! Whaat?! Kenapa aku malah jadi malu-malu? Lagipula yang bilang kan seorang MatsuJun. Cowok teman satu grup-ku. Sekali lagi : cowok teman satu grup-ku! Kenapa aku malah tersipu seperti sedang dipuji oleh pacar sendiri. Dan aku semakin tidak karuan ketika menyadari wajahku bertambah panas.

"Aaarrghh!!" aku mengacak-acak rambutku.
"Kebiasaanmu selalu begitu ya, mengacak-acak rambut kalau sedang bingung atau kesal." Jun bergumam.
"Eh?! Ah, tidak. Aku tidak bingung kok, apalagi kesal. Cuma kebiasaan...haha." aku mencoba menyembunyikan wajahku yang memerah.

Setelah puas nongkrong di malam hari, kami pun memutuskan untuk pulang.

(Nempel terus sama Jun, Aiba dikemanain....?)



<Jun>

Aku menarik napas panjang.
Padahal hanya beberapa inchi di depanku, tetapi entah kenapa tubuhku rasanya berat sekali. Tak bisa kugerakkan sedikitpun. 

Aku kembali menarik napas.
Kukumpulkan semua keberanianku. Pintu berwarna merah bata di depanku yang terlihat seperti layaknya pintu apartemen biasa, kini terlihat bagaikan sebuah gerbang tinggi besar yang mustahil kubuka. Papan bertuliskan 'Sakurai' di samping pintu semakin membuatku berdebar-debar tidak karuan.

Akhirnya setelah menarik napas beberapa kali dan memastikan tidak ada siapapun di sekitar apartemen itu, kuberanikan diri menekan bel.

PING PONG

Hening sejenak. Tidak ada jawaban apapun. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di balik pintu apartemen yang belnya tadi kutekan. Mungkin si pemilik rumah sedang keluar. Pastinya. Apa sih yang kupikirkan, Sho itu kan selebriti terkenal yang punya banyak schedule. Mulai dari liputan berita olimpiade, News Caster, belum lagi beberapa dorama dan juga persiapan film. Mana mungkin dia ada di rumah sore-sore seperti ini.

Ketika kuputuskan untuk berbalik dan kembali pulang, aku mendengar suara yang tak asing di balik pintu.

"Iyaa, sebentaar." suara Sho dari balik pintu.
Nampaknya ia berlari-lari menuju pintu.

KLIK

Terdengar suara kunci dibuka dan beberapa detik kemudian, pintu apartemen berwarna merah bata itu terbuka perlahan dan kulihat wajah serta sosok yang tak asing dan tak sabar ingin kutemui hari itu.

"Oh! MatsuJun! Ada apa?" Sho terlihat kaget dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Ia nampak lebih kaget lagi ketika melihat tas ransel besar yang bersandar di pundakku.
"Yo! Maaf aku datang tiba-tiba. Aku mengganggu ya?" jawabku dengan ragu.
"Iie, zenzen. Douzo." Sho mempersilakanku masuk dengan ramah.
"Ojamashimasu" aku melangkahkan kakiku menuju apartemen Sho.

Sebuah aparteman sederhana dan cukup rapih untuk seukuran cowok yang tinggal sendiri. Aku tahu Sho bukan dari kalangan berada, dan walaupun ia kini sudah mampu membeli mansion mewah di pusat kota, Sho bukanlah orang yang suka menghambur-hamburkan uang. Ia merasa cukup tinggal di apartemen sederhana asalkan bersih dan tenang.

Setelah melepas sepatu dan menyimpannya di rak, aku berjalan mengikuti Sho menuju ruang tamu yang menyatu dengan ruang TV. Sebuah sofa lebar berwarna coklat susu dengan meja kaca yang bersih dan tergeletak sebuah majalah berbahasa inggris dan koran sore di atasnya. Tampak sebuah televisi berukuran 42 inchi dalam kondisi tidak dinyalakan. Pasti Sho sedang asik membaca berita-berita di koran dan majalah, pikirku.

Dia mempersilakanku duduk di sofa empuk berwarna coklat susu itu.
Kuletakkan tas ransel di samping sofa dan menatap Sho yang menuju dapur untuk menghidangkan teh.

"Sho-kun..." aku tak melepaskan pandanganku dari Sho.
"Ng, nani?" Sho menjawab sambil memasukkan beberapa potongan daun teh ke dalam teko keramik kecil.
"Aku...." aku tak melanjutkan kata-kataku dan manghampiri Sho menuju kitchen.
"Kenapa?" Sho menghentikan aktivitas menyeduh tehnya dan menatapku.
"Boleh aku menginap disini malam ini?" jawabku pelan.
"Menginap? Ada apa MatsuJun?" Sho terheran-heran.
"Ah, tidak. Tidak jadi. Aku di hotel saja. Pasti mengganggu ya. Kamu kan perlu privasi. Maaf, maaf. Aku meminta yang tidak-tidak." Aku tergagap.
"Jangan-jangan, ransel itu..." Sho tidak meneruskan kata-katanya.
"Sebenarnya, aku sedang tidak ingin pulang ke rumah. Kau tahu, ayahku kemarin pulang dan seperti biasa, kami tidak akur. Pembicaraan mengenai penerus Matsumoto Enterprise saat makan malam membuatku tidak ingin kembali ke rumah untuk sementara waktu." Aku menjelaskan panjang lebar.

Sho hanya menatapku, tanpa berkata sedikit pun.

"Sou desuyo ne---. Aku pasti mengganggumu. Maaf, aku mau cari hotel saja. Oia, tehnya tidak usah. Ja ne." aku buru-buru mengambil ranselku dan pergi menuju pintu keluar.
"Matte...." Sho menarik tanganku dan menatapku dengan matanya yang bulat. "Disini saja. Kamu boleh menginap di apartemenku." Sho tersenyum.
"Eh, tapi...Aku tidak mau menyusahkanmu." aku mencoba menolak dengan halus, tapi tangan Sho seperti tidak mau melepaskanku.

Sho menggeleng.
"Apanya yang menyusahkan? Aku senang kok ada temanku menginap. Lagipula aku kan tinggal sendiri, tidak akan ada yang protes, kan? Ayo sini, simpan ranselmu di sini." Sho melepas ransel yang bersandar di punggungku dan meletakkannya di samping tempat tidurnya.
"Benarkah?" aku masih tidak percaya.
"Aduuhh, MatsuJun. Kamu ini kayak ke siapa aja deh. Tidak usah sungkan. Anggap saja rumahmu sendiri." Sho kembali ke kitchen untuk menuangkan air panas ke dalam teko keramik yang tadi sempat tidak jadi.

"Aku mungkin tidak tahu apa-apa soal masalah keluargamu dan tidak bisa membantumu, tapi kamu bisa menginap disini dan aku akan mendengarkan ceritamu." Sho memberikan secangkir teh hangat dengan aroma peppermint yang lembut kepadaku.
"Arigato, Sho-chan." aku tersenyum.
"Yang boleh panggil Sho-chan cuma Aiba, tau!"protes Sho.

Kami pun tertawa terbahak-bahak.

..........

"Tempat tidurku hanya satu, kamu tidak keberatan kan tidur berdua denganku?" Sho bertanya sambil merapikan sprei di tempat tidurnya. "Atau aku bisa tidur di sofa kok." Sho menambahkan.
"Tidak apa. Kita kan bisa sambil ngobrol sebelum tidur." aku tersenyum.
"Okay" Sho kembali sibuk merapikan spreinya.

"Uwaaahh, kimochi!!" Sho merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi terlentang.
"Capek, ya Sho-kun?" aku melepaskan sandal rumah dan naik ke atas tempat tidur.
"Lumayan. Kayaknya malam ini aku bakal tidur nyenyak." Sho menggeliat.
"Oiya, besok pagi mau sarapan apa? Nanti kubuatkan sarapan, tinggal pilih. French toaster, scramble egg, salad, kopi pahit atau...." aku tak meneruskan kata-kataku begitu melihat Sho yang sudah terlelap di sampingku.

Terdengar suara dengkur halus. Kumatikan lampu kamar, tapi aku masih bisa melihat wajah Sho yang diterpa cahaya dari lampu di luar jendela apartemen. Ia begitu tampan dan entah kenapa terlihat manis untukku. Mungkin wajah polosnya ketika tidur menjadikannya nampak cute di mataku. Sho masih sama seperti beberapa tahun yang lalu ketika kami pertama kali bertemu, ketika masih di Jhonny's Junior, walaupun kini wajahnya lebih dewasa dan semakin tampan, namun wajah polos dan kulitnya yang halus tidak berubah. Alisnya tidak begitu tebal, bibirnya penuh dan kemerahan.

Wajah itu sangat tenang; ia tidur nyenyak. Perasaanku tiba-tiba campur aduk melihat sosok Sho yang tidur di sebelahku. Aku merasakan kenyamanan dan kehangatan yang selama ini belum pernah kurasakan. Ingin rasanya aku mengelus kepalanya perlahan, mencium keningnya dan memeluknya erat. Tapi kuurungkan niatku, mengingat Sho pasti akan terkejut setengah mati jika aku benar-benar melakukannya.

Kuulurkan tanganku untuk menyentuh pipinya yang halus dengan perlahan.

"Kenapa, MatsuJun?" Sho terbangun dan nada keheranan terdengar dari suaranya yang parau.
"Nggak apa-apa" aku menggeser tubuhku dan siap-siap untuk tidur. "Oyasumi".

Aku pun merebahkan tubuhku dan menarik selimutku hingga dagu.

......

Dua butir telur kubuat menjadi scramble egg, salad dengan minyak zaitun dan kopi pahit dengan aroma yang lembut kusiapkan di dalam mug kesayangan Sho. Aku sudah terbiasa menyiapkan sarapan sendiri, meskipun pelayan di rumahku selalu memintaku agar mereka yang menyiapkannya. Sehingga, menyiapkan sarapan untuk Sho bukanlah hal sulit dan tidak membuang waktu banyak.

Lalu aku mandi.

Sho terbangun ketika aku menonton Zoom In di Televisi. Kudengar suara keran di kamar mandi, lalu Sho duduk di sampingku. Tercium aroma pasta gigi yang segar dari Sho.

"Ohayo, Sho." sapaku.
"Ohayoohuaheemmmm" Sho menggeliat. Aku tertawa cekikikan melihatnya.
"Sarapan sudah siap. Maaf tadi aku menggunakan dapurmu seenaknya." kataku sambil menyodorkan kopi kepada Sho.
"Eh, kamu sampai membuatkanku sarapan? Uwaahhh, keren banget. Aku biasanya sarapan dengan kopi saja, atau roti sisa kemarin. Tapi ini...uwaahhh, ada scramble egg dan salad juga!" Sho kegirangan dan tanpa dikomando ia segera melahap sarapannya.
Aku hanya tersenyum melihat Sho yang kegirangan.
"Hamu hengga uhah rehot-remhopp, HasuHun." Sho berbicara dengan mulut penuh salad.
"Kamu bicara apa, sih? Habiskan dulu itu makananmu, nanti tersedak lho." kataku sambil tetap menahan tawa.

Benar-benar kulihat sosok Sho yang lain di pagi itu. Sho yang selalu tenang dan elegan, kini seperti anak kecil yang baru diberi permen oleh orang tuanya.

"Maksudku, kamu nggak usah repot-repot MatsuJun." Sho mengulang kembali kata-katanya setelah menelan habis makanan di mulutnya.
"Tidak apa. Aku kan sudah diizinkan menginap di apartemenmu, jadi sebagai balasannya aku membuatkanmu sarapan."

Sho hanya tersenyum.

 (Makin deket aja mereka....)


”このままもっと 同じ想いで変わらぬ愛を
ありふれた日々に記してゆく I Love You
このままもっと この先ずっと 笑っていて欲しい”
(Perasaan yang sama, cinta yang takkan berubah, teruslah seperti ini
Kutuliskan dalam I Love You dalam hari-hari
Sekarang dan seterusnya, aku ingin kau tetap tertawa, terus seperti ini."
 
(Hadeuuhhh, mau diapain duo ini....? Aiba nampak tersisihkan..hix )








4 comments:

  1. kak,,kemaren perasaan ceritanya tentang jun yang jadi peringkat pertama di universitas gitu deh,,yang sho nya juara 2,,sekarang perasaan ceritanya jadi beda ya?atau saya yg ngelindur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gomenasai, ceritanya aku rombak dari awal. (Ngga ngelindur kok..hehe)
      Pengennya cerita yang lebih deket dengan kehidupan mereka sehari-hari, tapi inti ceritanya ngga berubah kok, cuma latar dan settingnya aja.

      Thanx :D

      Delete